Cara Mengajarkan Sastra Anak di SD

Table of Contents

Cara Mengajarkan Sastra Anak di SD

Pelajarnews.com - Sastra adalah salah satu bidang ilmu yang dapat membuka cakrawala pengetahuan dan imajinasi anak-anak. 

Namun, bagaimana cara mengajarkan sastra kepada anak sekolah dasar (SD) agar mereka tertarik dan tidak bosan? Artikel ini akan memberikan beberapa tips yang dapat Anda terapkan dalam proses pembelajaran sastra di SD.

{getToc} $title={Table of Contents}

Mengapa Sastra Penting bagi Anak SD?

Sastra memiliki banyak manfaat bagi perkembangan anak SD, di antaranya adalah:

Meningkatkan kemampuan berbahasa, baik lisan maupun tulisan, melalui penguasaan kosa kata, tata bahasa, dan gaya penulisan yang baik dan benar.

Meningkatkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif, melalui pemahaman dan apresiasi terhadap karya sastra, seperti tema, plot, karakter, latar, dan pesan moral yang terkandung di dalamnya.

Meningkatkan kemampuan bersosialisasi, empati, dan toleransi, melalui pengenalan dan penghayatan terhadap berbagai budaya, nilai, dan pandangan hidup yang berbeda-beda yang tercermin dalam karya sastra.

Baca juga: 5 Cara Mudah Mengajar Matematika Anak SD yang Efektif

Meningkatkan minat baca dan kecintaan terhadap sastra, melalui pengalaman estetik dan kesenangan yang didapat dari membaca karya sastra yang menarik dan sesuai dengan minat dan tingkat perkembangan anak.

Bagaimana Cara Mengajarkan Sastra kepada Anak SD?

Berikut adalah beberapa tips dan cara mengajarkan sastra kepadan Anak di SD (Sekolah Dasar)

Gunakan Imajinasi Saat Membaca Prosa dan Puisi

Salah satu hal yang membuat sastra menarik adalah penggunaan bahasa yang kaya dan bermakna. Dalam karya sastra, kita bisa menemukan berbagai gaya bahasa dan cara penyampaian yang unik dan kreatif. 

Oleh karena itu, untuk bisa memahami dan menikmati karya sastra, kita harus menggunakan imajinasi kita. Imajinasi adalah kemampuan untuk membayangkan sesuatu yang tidak ada atau belum terjadi. Dengan imajinasi, kita bisa membentuk gambaran di dalam pikiran kita tentang apa yang sedang kita baca.

Misalnya, ketika kita membaca puisi, kita bisa mencoba membayangkan suasana, perasaan, atau pesan yang ingin disampaikan oleh penyair. Puisi sering menggunakan kata-kata yang simbolis atau metaforis, yang artinya tidak sama dengan makna harfiahnya. 

Dengan imajinasi, kita bisa mencari tahu makna di balik kata-kata tersebut dan merasakan keindahan bahasanya. Contohnya, dalam puisi berikut ini:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Kita bisa membayangkan bahwa penyair ingin menyatakan cintanya secara tulus dan tanpa syarat, seperti kayu yang rela terbakar oleh api. Kata-kata “kayu” dan “api” di sini bukan berarti benda yang sebenarnya, melainkan lambang dari cinta yang mengorbankan diri.

Begitu juga ketika kita membaca prosa, seperti novel atau cerpen, kita bisa mencoba membayangkan tokoh, latar, alur, dan konflik yang ada di dalam cerita. 

Dengan begitu, kita bisa lebih mudah menangkap ide pokok dan tema dari cerita tersebut. Ide pokok adalah gagasan utama yang menjadi inti dari cerita, sedangkan tema adalah pesan moral atau nilai-nilai yang ingin disampaikan oleh pengarang. Contohnya, dalam cerpen berikut ini:

Pak Budi adalah seorang guru yang sangat disegani oleh murid-muridnya. Ia selalu tegas dan disiplin dalam mengajar. Namun, di balik sikapnya yang keras, ia sebenarnya sangat peduli dan sayang kepada murid-muridnya. Ia selalu memberikan motivasi dan bantuan kepada mereka yang mengalami kesulitan. Suatu hari, ia mendapat kabar bahwa salah satu muridnya, Andi, mengalami kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit. Ia segera mengunjungi Andi dan membawakan buku-buku pelajaran untuknya. Ia juga menjanjikan akan membimbing Andi agar tidak tertinggal pelajaran di sekolah. Andi merasa sangat terharu dan berterima kasih kepada Pak Budi. Ia berjanji akan belajar lebih giat lagi dan tidak mengecewakan Pak Budi.

Kita bisa membayangkan bahwa Pak Budi adalah seorang guru yang baik dan bertanggung jawab, sedangkan Andi adalah seorang murid yang beruntung dan bersemangat. 

Ide pokok dari cerpen ini adalah hubungan antara guru dan murid yang saling menghargai dan membantu. Tema dari cerpen ini adalah pentingnya pendidikan dan peran guru dalam membentuk karakter murid.

Dengan menggunakan imajinasi, kita bisa lebih menikmati dan memahami karya sastra yang kita baca. Selain itu, imajinasi juga bisa membantu kita untuk mengembangkan kreativitas dan daya nalar kita.

Pelajari Latar Belakang Pengarang dan Tokoh Sastra

Karya sastra tidak terlepas dari pengarangnya. Setiap pengarang memiliki ciri khas dan gaya tersendiri dalam menciptakan karya sastranya. 

Oleh karena itu, untuk bisa lebih mengenal dan menghargai karya sastra, kita harus juga mengetahui latar belakang pengarangnya. 

Latar belakang pengarang meliputi asal usul, pendidikan, pengalaman, pandangan, dan tujuan dari pengarang. Hal-hal ini bisa mempengaruhi cara pengarang menulis dan menyampaikan pesannya.

Di Indonesia, ada banyak sekali pengarang sastra yang terkenal dan berpengaruh. Beberapa di antaranya adalah Sapardi Djoko Damono, Taufik Ismail, Pramoedya Ananta Toer, dan Chairil Anwar. Mereka adalah pengarang yang memiliki karya-karya sastra yang berkualitas dan bermakna. 

Dengan mengetahui latar belakang mereka, kita bisa lebih menghargai dan memahami karya-karya mereka.

Baca juga: Cara Mengajar Berhitung Anak SD yang Menyenangkan dan Efektif

Selain pengarang, kita juga harus mengetahui tokoh-tokoh sastra yang ada di dalam karya sastra. Tokoh sastra adalah orang-orang yang menjadi pelaku atau karakter dalam cerita. Tokoh sastra bisa dibedakan menjadi tokoh utama dan tokoh tambahan. 

Tokoh utama adalah tokoh yang menjadi pusat perhatian dan penggerak cerita, sedangkan tokoh tambahan adalah tokoh yang membantu atau menghalangi tokoh utama. Tokoh sastra juga bisa dibedakan menjadi tokoh protagonis dan tokoh antagonis. 

Tokoh protagonis adalah tokoh yang menjadi pihak baik atau pahlawan dalam cerita, sedangkan tokoh antagonis adalah tokoh yang menjadi pihak jahat atau penjahat dalam cerita.

Untuk bisa memahami dan menikmati karya sastra, kita harus bisa mengenal dan menganalisis tokoh-tokoh sastra yang ada di dalamnya. 

Kita harus bisa mengetahui sifat, peran, hubungan, dan perkembangan dari tokoh-tokoh sastra tersebut. 

Dengan begitu, kita bisa lebih mudah menangkap konflik dan alur dari cerita. Konflik adalah pertentangan atau masalah yang dihadapi oleh tokoh-tokoh sastra, sedangkan alur adalah urutan peristiwa yang terjadi dalam cerita.

Lakukan Diskusi dan Apresiasi Sastra

Salah satu cara yang bisa membuat belajar sastra menjadi lebih menyenangkan adalah dengan melakukan diskusi dan apresiasi sastra. Diskusi adalah kegiatan berbicara dan bertukar pendapat tentang suatu topik atau masalah. 

Apresiasi adalah kegiatan menilai dan menghargai suatu karya atau hasil kreativitas. Dengan melakukan diskusi dan apresiasi sastra, kita bisa berbagi pemikiran dan pengalaman dengan orang lain tentang karya sastra yang kita baca. 

Kita juga bisa mendapatkan sudut pandang dan pemahaman yang berbeda-beda dari orang lain.

Diskusi dan apresiasi sastra bisa dilakukan dengan teman-teman sekelas, guru, keluarga, atau komunitas sastra. 

Kita bisa memilih topik atau tema yang ingin kita bahas, misalnya tentang pengarang, tokoh, alur, konflik, tema, gaya bahasa, atau pesan dari karya sastra. 

Kita bisa menanyakan pendapat atau tanggapan orang lain tentang topik atau tema tersebut, dan juga memberikan pendapat atau tanggapan kita sendiri. Kita harus bersikap terbuka dan menghormati pendapat atau tanggapan orang lain, meskipun berbeda dengan kita. 

Kita juga harus bersikap kritis dan argumentatif, yaitu memberikan alasan atau bukti yang mendukung pendapat atau tanggapan kita.

Dengan melakukan diskusi dan apresiasi sastra, kita bisa meningkatkan kemampuan berpikir, berbicara, dan berargumen kita. 

Baik, saya akan melanjutkan menulis artikel saya. Berikut adalah paragraf selanjutnya:

Manfaatkan Media dan Sumber Belajar Sastra yang Menarik

Selain membaca karya sastra secara langsung, kita juga bisa belajar sastra dengan menggunakan media dan sumber belajar sastra yang menarik. 

Media dan sumber belajar sastra adalah alat atau bahan yang bisa membantu kita mempelajari sastra dengan lebih mudah dan menyenangkan. Ada berbagai macam media dan sumber belajar sastra yang bisa kita manfaatkan, misalnya:

  • Film: Film adalah media audiovisual yang bisa menampilkan cerita sastra dalam bentuk gambar dan suara. Dengan menonton film, kita bisa melihat secara langsung bagaimana tokoh, latar, alur, dan konflik dalam cerita sastra diadaptasi menjadi adegan-adegan film. Kita juga bisa mendengar dialog dan narasi yang menggunakan bahasa sastra. Beberapa contoh film yang diadaptasi dari karya sastra adalah Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Dilan, dan Habibie & Ainun.
  • Komik: Komik adalah media visual yang bisa menampilkan cerita sastra dalam bentuk gambar dan teks. Dengan membaca komik, kita bisa melihat secara langsung bagaimana tokoh, latar, alur, dan konflik dalam cerita sastra digambarkan menjadi panel-panel komik. Kita juga bisa membaca dialog dan narasi yang menggunakan bahasa sastra. Beberapa contoh komik yang diadaptasi dari karya sastra adalah Si Juki Cari Kerja, Negeri 5 Menara, Ayahku (Bukan) Pembohong, dan Bumi Manusia.
  • Podcast: Podcast adalah media audio yang bisa menampilkan cerita sastra dalam bentuk suara. Dengan mendengarkan podcast, kita bisa mendengar secara langsung bagaimana tokoh, latar, alur, dan konflik dalam cerita sastra dibacakan atau diceritakan oleh pembawa podcast. Kita juga bisa mendengar dialog dan narasi yang menggunakan bahasa sastra. Beberapa contoh podcast yang menampilkan karya sastra adalah Cerita Pendek Indonesia, Sastra Indonesia Klasik, Puisi-Puisi Indonesia, dan Cerita Rakyat Nusantara.
  • Buku: Buku adalah media cetak yang bisa menampilkan karya sastra dalam bentuk teks. Dengan membaca buku, kita bisa membaca secara langsung bagaimana tokoh, latar, alur, dan konflik dalam cerita sastra ditulis oleh pengarang. Kita juga bisa membaca dialog dan narasi yang menggunakan bahasa sastra. Beberapa contoh buku yang berisi karya sastra adalah Antologi Cerpen Indonesia, Antologi Puisi Indonesia, Antologi Drama Indonesia, dan Antologi Novel Indonesia.

Dengan menggunakan media dan sumber belajar sastra yang menarik, kita bisa belajar sastra dengan lebih variatif dan menyenangkan. Kita juga bisa memilih media dan sumber belajar sastra yang sesuai dengan minat dan gaya belajar kita.

Demikianlah beberapa tips yang bisa membuat belajar sastra menjadi lebih asyik dan mudah bagi anak-anak sekolah dasar. 

Semoga tips ini bermanfaat dan bisa meningkatkan minat dan prestasi kita dalam sastra. Selamat belajar sastra! 

Pelajar News
Pelajar News Pelajar News hadir untuk menjadi jembatan informasi pendidikan bagi para pelajar Indonesia.

Post a Comment