BeritaNasional

Skor Matematika TKA SMA 2025 Jeblok, Mendikdasmen Beberkan Akar Masalah Numerasi

58
×

Skor Matematika TKA SMA 2025 Jeblok, Mendikdasmen Beberkan Akar Masalah Numerasi

Share this article
Skor Matematika TKA SMA 2025 Jeblok, Mendikdasmen Beberkan Akar Masalah Numerasi
Sejumlah siswa tengah mengerjakaan soal - soal Ujian Nasional dengan menggunakan Komputer atau Computer Based Test (CBT) ( ANTARA FOTO/Muhammad Iqba)

Pelajarnews.com – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA tahun 2025 mengguncang dunia pendidikan. Skor Matematika TKA 2025 dilaporkan sangat rendah, atau dalam istilah Mendikdasmen Abdul Mu’ti, “jeblok-blok”. Pernyataan ini ia sampaikan secara terbuka dalam Musyawarah Nasional Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) di Jakarta.

Temuan ini bukan sekadar angka ujian yang turun, tetapi menjadi sinyal kuat bahwa ada persoalan mendasar dalam literasi numerasi dan cara kita mengajarkan Matematika di sekolah menengah atas.

2. Mengapa Skor Matematika TKA SMA 2025 Sangat Rendah?

2.1 Bukan Karena Siswa Bodoh

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa jebloknya skor Matematika tidak boleh langsung disimpulkan sebagai bukti bahwa siswa SMA di Indonesia “bodoh” dalam Matematika.

Menurutnya, kemampuan belajar siswa tidak menjadi masalah utama. Yang lebih krusial justru ekosistem belajarnya: bagaimana Matematika diperkenalkan, diajarkan, dan dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari. Siswa bisa belajar, tetapi mereka tidak diberi pengalaman belajar Matematika yang membuat mereka yakin, tertarik, dan berani mencoba.

2.2 Budaya Numerasi yang Lemah

Akar persoalan yang disorot Mendikdasmen adalah rendahnya budaya numerasi.
Budaya numerasi bukan sekadar kemampuan berhitung, tetapi kebiasaan menggunakan angka, data, logika, dan penalaran kuantitatif dalam keseharian.

Di banyak lingkungan, angka hanya muncul saat ujian atau pekerjaan rumah. Di luar itu, Matematika jarang dihubungkan dengan aktivitas nyata seperti berbelanja, mengukur, membandingkan, atau mengambil keputusan berbasis data. Akibatnya, Matematika terasa asing dan hanya dianggap sebagai “materi ujian”, bukan sebagai keterampilan hidup.

2.3 Persepsi Matematika sebagai Pelajaran yang Menakutkan

Mu’ti juga menyoroti kuatnya anggapan bahwa Matematika adalah pelajaran yang sulit dan menakutkan. Persepsi ini diperkuat oleh dua faktor utama:

  • Buku pelajaran yang kaku, penuh simbol dan rumus tanpa konteks kehidupan nyata.
  • Cara mengajar yang sering berfokus pada hafalan rumus dan kecepatan mengerjakan soal, bukan pada pemahaman konsep dan pemecahan masalah.

Ketika siswa sejak awal hanya bertemu Matematika dalam bentuk angka-angka rumit tanpa cerita, tanpa permainan logika, dan tanpa kaitan dengan dunia mereka, wajar jika Matematika diposisikan sebagai beban, bukan tantangan yang menarik.

Baca Juga:  Daftar 41 PAUD dan TK Terakreditasi A di Denpasar

2.4 Dampak Terhadap Capaian PISA Indonesia

Rendahnya numerasi di tingkat nasional punya efek jangka panjang. Salah satunya tercermin pada skor Indonesia di Programme for International Student Assessment (PISA), khususnya di bidang Matematika, yang cenderung stagnan bahkan menurun.

TKA 2025 dengan skor Matematika yang jeblok memperkuat gambaran bahwa kemampuan berpikir logis, analitis, dan numerik siswa Indonesia masih tertinggal. Ini bukan hanya persoalan ranking internasional, tetapi menyangkut daya saing generasi muda di dunia kerja dan kehidupan modern yang semakin berbasis data dan teknologi.

3. Akar Masalah: Buku, Guru, dan Ekosistem Belajar

3.1 Buku Pelajaran yang Kurang Kontekstual

Salah satu faktor yang disorot adalah kualitas dan pendekatan buku pelajaran Matematika dan sains. Banyak buku masih:

  • Menyajikan contoh soal yang abstrak dan jauh dari realitas kehidupan siswa.
  • Minim ilustrasi, cerita, atau studi kasus yang dekat dengan dunia remaja.
  • Fokus pada latihan rutin tanpa mendorong siswa bertanya “mengapa” dan “untuk apa”.

Hasilnya, siswa sulit melihat manfaat konkret Matematika dalam hidup mereka. Mereka hanya mengejar nilai, bukan pemahaman.

3.2 Metode Mengajar yang Minim Pengalaman Nyata

Guru memegang peran kunci, namun seringkali dibatasi oleh tekanan kurikulum, target materi, dan budaya pendidikan yang masih berorientasi ujian. Metode yang banyak digunakan masih:

  • Ceramah satu arah di depan kelas.
  • Pengerjaan soal di papan tulis dan buku latihan tanpa eksplorasi.
  • Penilaian yang lebih menekankan jawaban benar daripada proses berpikir.

Padahal, Matematika akan lebih mudah dipahami jika guru mengajak siswa:

  • Mengamati pola di sekitar mereka.
  • Bereksperimen dengan permainan logika dan data sederhana.
  • Mendiskusikan strategi pemecahan masalah, bukan hanya hasil akhir.

3.3 Lingkungan Keluarga dan Penggunaan Angka Sehari-hari

Budaya numerasi tidak hanya dibangun di sekolah, tetapi juga di rumah. Jika di rumah angka hanya muncul saat “menghitung nilai rapor” atau “menghitung uang saku”, maka Matematika akan terasa sempit maknanya.

Idealnya, keluarga juga:

  • Mengajak anak berhitung dan membandingkan saat belanja.
  • Mengajak anak mengukur, memperkirakan, dan mengamati pola dalam aktivitas sederhana.
  • Memuji usaha anak berpikir logis, bukan hanya saat mereka menjawab dengan benar.
Baca Juga:  Ratusan Pelajar Mempawah Hilir Terima Pelatihan Logistik dari IPC

Tanpa dukungan lingkungan, sekolah akan kesulitan mengubah cara pandang anak terhadap Matematika.

4. Strategi Pemerintah: Menguatkan STEM Sejak Dini

4.1 Buku Sains 3M: Mudah, Murah, Menyenangkan

Sebagai respons atas jebloknya skor Matematika TKA 2025, pemerintah menyiapkan strategi besar untuk membangkitkan minat terhadap STEM (Science, Technology, Engineering, and Math).

Salah satu langkah konkret adalah pengembangan buku-buku sains dengan pendekatan 3M: Mudah, Murah, dan Menyenangkan. Artinya:

  • Mudah: Bahasa sederhana, contoh konkret, dan penjelasan bertahap.
  • Murah: Dapat diakses lebih luas, termasuk oleh sekolah dan daerah dengan keterbatasan anggaran.
  • Menyenangkan: Dikemas dengan ilustrasi, permainan, eksperimen sederhana, dan cerita kontekstual sehingga siswa merasa dekat, bukan terintimidasi.

Buku yang baik diharapkan menjadi pintu masuk agar siswa tidak lagi alergi terhadap angka dan konsep Matematika.

4.2 Gerakan Numerasi Nasional dari Jenjang TK

Pemerintah juga menggulirkan Gerakan Numerasi Nasional sebagai upaya membangun budaya numerasi sejak dini. Gerakan ini menargetkan:

  • Penanaman konsep Matematika dasar di Taman Kanak-kanak (TK) melalui permainan, cerita, dan aktivitas motorik.
  • Pembiasaan anak menggunakan pola, bentuk, urutan, dan perbandingan dalam aktivitas harian.
  • Keterlibatan guru dan orangtua dalam menghadirkan Matematika sebagai bagian alami dari kegiatan bermain, bukan sebagai “pelajaran berat”.

Mu’ti menegaskan bahwa Matematika perlu diajarkan sejak TK, tentu bukan dalam bentuk rumus kompleks, tetapi melalui kegiatan bermain logika yang sederhana, misalnya menyusun balok, mengelompokkan benda, membandingkan ukuran, atau mengurutkan objek.

4.3 Matematika sebagai Keterampilan Hidup

Tujuan akhir dari strategi ini bukan sekadar menaikkan skor TKA atau PISA, melainkan:

  • Membentuk generasi yang kritis, mampu menganalisis informasi.
  • Membentuk cara berpikir logis dalam mengambil keputusan.
  • Membentuk individu yang adaptif, siap menghadapi dunia kerja dan teknologi yang terus berubah.

Matematika diposisikan kembali sebagai bahasa universal untuk membaca dunia, bukan sekadar kumpulan soal ujian.

5. Implikasi bagi Sekolah, Guru, dan Orangtua

5.1 Peran Sekolah: Menghadirkan Matematika yang Relevan

Sekolah perlu menafsirkan hasil TKA 2025 sebagai dasar untuk berbenah, bukan sekadar data kegagalan. Beberapa langkah yang dapat diambil antara lain:

  • Mengintegrasikan Matematika dengan konteks nyata: ekonomi, teknologi, lingkungan, dan kehidupan sosial.
  • Mendorong proyek berbasis masalah (problem-based learning) yang mengharuskan siswa menggunakan data dan perhitungan.
  • Membuka ruang kolaborasi antara guru Matematika, sains, dan teknologi untuk menyusun pembelajaran STEM yang terintegrasi.
Baca Juga:  Dukungan UI untuk Palestina: Luluskan 1 dan Terima 3 Mahasiswa Baru

5.2 Peran Guru: Fasilitator Berpikir, Bukan Hanya Pemberi Rumus

Guru perlu memposisikan diri sebagai fasilitator berpikir kritis. Ini berarti:

  • Mengajukan pertanyaan pemantik, bukan hanya memberi contoh dan jawaban.
  • Menghargai proses, termasuk kesalahan, sebagai bagian dari pembelajaran.
  • Menggunakan variasi metode: diskusi, permainan, simulasi, eksperimen sederhana, dan pemanfaatan teknologi.

Dengan demikian, Matematika tidak lagi tampak sebagai tembok tinggi yang menghalangi siswa, tetapi sebagai tangga bertahap yang bisa dinaiki satu per satu.

5.3 Peran Orangtua: Menumbuhkan Numerasi di Rumah

Orangtua juga memegang peran penting dalam Gerakan Numerasi Nasional. Hal-hal sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

  • Mengajak anak ikut menghitung, menaksir, dan membandingkan saat berbelanja atau memasak.
  • Menggunakan permainan papan, puzzle, atau aplikasi edukasi yang mengasah logika.
  • Menghindari ucapan negatif seperti “Matematika itu susah” di depan anak, karena akan membentuk keyakinan diri yang keliru.

Jika rumah dan sekolah sejalan, budaya numerasi akan tumbuh lebih kuat dan alami.

6. Skor Jeblok sebagai Peringatan, Bukan Vonis

Skor Matematika TKA SMA 2025 yang sangat rendah adalah alarm keras bagi sistem pendidikan, bukan vonis bahwa siswa Indonesia tidak mampu. Pernyataan Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa masalahnya bukan pada kecerdasan siswa, tetapi pada budaya numerasi yang lemah, persepsi negatif terhadap Matematika, serta pendekatan pembelajaran dan buku pelajaran yang kurang menarik dan kontekstual.

Melalui pengembangan buku sains 3M, peluncuran Gerakan Numerasi Nasional sejak TK, dan penguatan ekosistem STEM, pemerintah berupaya menjadikan Matematika sebagai keterampilan hidup yang kritis, logis, dan adaptif.

Jika sekolah, guru, orangtua, dan pemerintah bergerak bersama, skor TKA yang jeblok dapat menjadi titik balik penting: dari sekadar mengejar nilai, menuju pembangunan generasi yang melek numerasi dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *